Senin, 05 April 2010

Hakikat dan Makna Sejarah

A. Makna Sejarah
Kata sejarah berasal dari bahasa Arab, yaitu syajaratun yang berarti pohon. Menurut bahasa Arab, sejarah sama artinya dengan sebuah pohon yang terus berkembang dari tingkat yang sangat sederhana ke tingkat yang lebih kompleks atau ke tingkat yang lebih maju. Itulah sebabnya, sejarah diumpamakan menyerupai perkembangan sebuah pohon yang terus berkembang dari akar sampai ranting yang terkecil.
Sedangkan menurut Edward Hallett Carr adalah sebagai berikut: Dengan fakta-fakta yang ada padanya; suatu dialog yang tidak henti-hentinya antara masa sekarang dengan masa silam. History is a continuous process of interaction between the historian and his facts, and unending dialogue between the present and the past (Carr,1982 : 30).
Sedangkan menurut Robert V. Daniels (1966 : 3) dengan singkat dikatakan bahwa : History is the memory of human group experience. Sejarah adalah kenangan pegalaman umat manusia.
J. Bank menyatakan bahwa: All past event is history (history as actuality). History can hep student to understand human behavior in the past, present and future. (new goals for historical studied). (1985 : 249). Semua peristiwa masa yang lampau adalah sejarah (Sejarah sebagai kenyataan!). Sejarah dapat membantu manusia untuk memahami perilaku manusia pada masa yang lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang (tujuan-tujuan baru untuk studi sejarah).
Selanjutnya dapat ditelaah rumusan sejarah menurut Muhammad Yamin yang berbunyi sebagai berikut: “Sejarah adalah ilmu pengetahuan dengan umumnya yang berhubungan dengan ceritera bertarikh sebagai hasil penafsiran kejadian-kejadian dalam masyarakat manusia pada waktu yang telah lampau, atau tanda-tanda yang lain. ”(Yamin, 1957:4 ).
Jadi secara khusus kelompok kami mengambil kesimpulan yaitu sejarah merupakan cerita atau kejadian atau peristiwa yang benar-benar sudah terjadi atau berlangsung pada waktu yang lalu, yang telah diteliti oleh penulis sejarah dari masa ke masa.



B. Hakekat dan Ruang Lingkup Sejarah
Telah diuraikan di atas, bahwa ilmu sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Maka dalam pembahasannya, ilmu sejarah mencakup beragam peristiwa yang pernah terjadi dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pembahasan sejarah berawal dari adanya kehidupan manusia hingga dewasa ini.
1. Sejarah sebagai Peristiwa
Peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sejak masa lampau menjadi materi yang sangat penting dalam pembahasan Ilmu Sejarah. Bahkan melalui peristiwa-peristiwa itu, Ilmu Sejarah menunjukkan suatu gambaran tentang kehidupan manusia di masa lampau dan sebab-akibat terjadinya suatu peristiwa. Namun, setiap peristiwa atau keadian-kejadian di dalam lingkungan kehidupan manusia belum tentu akan tercatat dalam catatan sejarah. Tanpa memandang besar kecilnya dari peristiwa itu, maka Ilmu Sejarah berusaha menyusun rangkaian peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam ruang lingkup kehidupan manusia sejak masa lampau agar menjadi suatu pelajaran bagi manusia di masa kini dan masa datang.
Para ahli sejarah atau sejarawan tidak begitu saja mencatat rangkaian peristiwa-perisiwa yang telah terjadi di masa lampau itu, tetapi juga mencoba menelusuri awal mula munculnya suatu peristiwa atau mencari sebab-sebab munculnya peristiwa itu. Dengan demikian mereka berusaha mengembangkan pembahasan peristiwa itu sampai kepada sektor kehidupan manusia yang mendorong terjadinya peristiwa itu.
2. Sejarah sebagai Kisah
Apabila kita berbicara tentang sejarah sebagai suatu kisah, kita tidak pernah lepas dari peristiwa-peristiwa sejarah yang telah terjadi di masa lampau. Alasannya, peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang telah terjadi di masa lampau itu meninggalkan jejak-jejak. Jejak-jejak sejarah ini memiliki arti yang sangat penting dalam menyusun kisah sejarah.
Menyusun kisah sejarah dari suatu masyarakat, bangsa, dan negara tidaklah mudah. Suatu masyarakat, bangsa, dan negara dipastikan meninggalkan jejak-jejak sejarah yang tidak sedikit. Jejak-jejak sejarah yang berisi rangkaian-rangkaian peristiwa atau kejadian-kejadian dalam lingkup kehidupan manusia menjadi sumber penting untuk penulisan kisah sejarah.
Penulisan sejarah mengenai suatu peristiwa atau kejadian tidak dapat hanya melihat bahwa suatu peristiwa atau kejadian telah terjadi. Tetapi hendaknya melihat lebih jauh lagi, yaitu faktor-faktor yang mendukung hingga munculnya peristiwa tersebut.
3. Sejarah sebagai Ilmu
Pada permulaan abad ke-20-an, telah terjadi suatu perdebatan tentang pandangan terhadap sejarah. Perdebatan itu antara lain mengenai apakah sejarah itu merupakan cabang dari ilmu pengetahuan atau merupakan suatu seni. Perdebatan ini yang melibatkan ahli filsafat dan ahli sejarah terjadi pertama kali di Jerman.
Berikut ini adalah para ilmuwan yang berpendapat mengenai sejarah. Menurut Burry, sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan, tidak kurang dan tidak lebih. York Powell menyatakan bahwa sejarah bukanlah sekadar suatu cerita yang indah, instruktif, dan mengasyikkan, tetapi merupakan cabang ilmu pengetahuan.
Sejarah sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan hendaklah dibahas dan dibuktikan secara keilmuan atau alamiah. Untuk membuktikan keilmiahannya itu, maka dipergunakan metode-metode dan berbagai standar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, dengan menggunakan metode ilmiah, para ahli atau sejarawan akan lebih berhati-hati dalam mengungkapkan kebenaran sejarah.
Sebagai ilustrasi, penemuan fosil manusia purba di Indonesia. Untuk mengungkapkan keberadaan manusia purba melalui hasil penemuan fosil-fosil tersebut, para ahli mencoba melakukan penelitian dengan menggunakan metode-metode atau standar ilmiah. Para ahli belum dapat membuat suatu kesimpulan apabila hanya menyelidiki manusia purba yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, mereka berusaha meluaskan daerah penelitiannya ke sekitar lokasi penelitian atau mencari jejak yang lebih jauh agar mendapatkan temuan-temuan yang lebih lengkap.
4. Sejarah sebagai Seni
Menurut Mills, Spencer, dan Comte, metode ilmu alam dapat digunakan untuk mempelajari sejarah, tanpa modifikasi lebih lanjut. Tetapi Dithley, seorang sejarawan dan filosof modern, menyatakan bahwa hal tersebut adalah salah besar. Sifat-sifat alami dari bahan-bahan pengetahuan alam adalah sesuatu yang selalu nyata terlihat, sehingga dengan mudah dapat menganalisa, menerangkan, dan menduganya. Namun sejarah adalah pengetahuan tentang rasa. Sejarah memerlukan pemahaman dan pendalaman akan bahan-bahan yang dihadapinya. Sejarah tidak saja memelajari segala sesuatu gerakan dan perubahan yang tampak di permukaan, tetapi juga mempelajari motivasi yang mendorong terjadinya perubahan itu bagi pelaku sejarah. Lebih lanjut, sejarah mempelajari suatu proses dinamis dari kehidupan manusia yang di dalamnya terlihat hubungan sebab akibat ( causal ) yang cukup rumit.

C. Kegunaan Sejarah
Kegunaan Ilmu Sejarah adalah sebagai ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora) dalam pendidikan tidak saja mempunyai arti besar bagi perkembangan identitas pribadi para individu-individu, tetapi juga bagi kesadaran identitas suatu bangsa secara keseluruhan. Selanjutnya juga sebagai instrumen untuk membangkitkan identifikasi nasional dan kebangsaan kepada kebudayaan untuk menuju suatu intregasi nasional guna menjadi suatu bangsa yang satu, yang mempunyai cita-cita kemajuan, kebudayaan, dan kemanusiaan yang sama dalam menyongsong masa depan.
Manfaat mempelajari sejarah adalah:
1.Kegunaan Edukatif
Kegunaan sejarah yang pertama adalah sebagai edukatif atau pelajaran. Banyak manusia yang belajar dari sejarah. Belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan. Pengalaman tidak hanya terbatas pada pengalaman yang dialaminya sendiri, melainkan juga dari generasi sebelumnya.manusia melalui belajar dari sejarah dapat mengembangkan potensinya. Kesalahan pada masa lampau, baik kesalahan sendiri maupun kesalahan orang lain coba dihindari. Sementara itu, pengalaman yang baik justru harus ditiru dan dikembangkan. Dengan demikian, manusia dalam menjalani kehidupannya tidak berdasarkan coba-coba saja (trial and error), seperti yang dilakukan oleh binatang. Manusia harus berusaha menghindari kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
2.Kegunaan Inspiratif
Kegunaan sejarah yang kedua adalah sebagai inspiratif. Berbagai kisah sejarah dapat memberikan inspirasi pada pembaca dan pendengarnya. Belajar dari kebangkitan nasional yang dipelopori oleh berdirinya organisasi perjuangan yang modern di awal abad ke-20, masyarakat Indonesia sekarang berusaha mengembangkan kebangkitan nasional yang ke-2. Pada kebangkitan nasional yang pertama, Bangsa Indonesia berusaha merebut kemerdekaan yang sekarang ini sudah dirasakan hasilnya. Untuk mengembangkan dan mempertahankan kemerdekaan , Bangsa Indonesia ingin melakukan kebangkitan nasional yang ke-2 , dengan bercita-cita mengejar ketertinggalan dari bangsa asing. Bangsa Indonesia tidak hanya ingin merdeka, tetapi juga ingin menjadi bangsa yang maju, bangsa yang mampu menyejahterakan rakyatnya. Untuk itu, Bangsa Indonesia harus giat menguasai IPTEK karena melalui IPTEK yang dikuasai, Bangsa Indonesia berpeluang menjadi bangsa yang maju dan disegani, serta dapat ikut serta menjaga ketertiban dunia.
3.Kegunaan Rekreatif
Kegunaan sejarah yang ketiga adalah sebagai kegunaan rekreatif. Kegunaan sejarah sebagai kisah dapat memberi suatu hiburan yang segar. Melalui penulisan kisah sejarah yang menarik pembaca dapat terhibur. Gaya penulisan yang hidup dan komunikatif dari beberapa sejarawan terasa mampu “menghipnotis” pembaca.
Pembaca akan merasa nyaman membaca tulisan dari sejarawan. Konsekuensi rasa senang dan daya tarik penulisan kisah sejarah tersebut membuat pembaca menjadi senang. Membaca menjadi media hiburan dan rekreatif. Membaca telah menjadi bagian dari kesenangan. Membaca telah dirasakan sebagai suatu kebutuhan, yaitu kebutuhan rekreatif.
Pembaca dalam mempelajari hasil penulisan sejarah tidak hanya merasa senang layaknya membaca novel, tetapi juga dapat berimajinasi ke masa lampau. Disini peran sejarawan dapat menjadi pemandu (guide). Orang yang ingin melihat situasi suatu daerah di masa lampau dapat membacanya dari hasil tulisan para sejarawan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pictures