Kamis, 19 Januari 2012

Ahmad Dahlan


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Film Sang Pencerah adalah sebuah titik penting dalam sejarah perfilman Indonesia, karena ia menceritakan episode kehidupan seorang tokoh termasyhur dalam sejarah Indonesia, yaitu K.H. Ahmad Dahlan.  Beliau adalah pendiri dari salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, pejuang, tokoh pergerakan, pendidikan, ulama kharismatik yang dianggap sebagai mujaddid dan berbagai predikat mulia lainnya.
Berbagai kritik telah dialamatkan kepada film ini, antara lain mengenai keakuratannya dengan sejarah hidup K.H. Ahmad Dahlan yang sebenarnya.  Pada kenyataannya, referensi sejarah yang bisa digunakan untuk melakukan riset tentang tokoh pendiri Muhammadiyah ini memang sangat terbatas.  Beliau bukan seorang penulis – lebih dikenal sebagai tipe ‘praktisi’ – sehingga orang yang hidup pada abad ke-21 akan merasa cukup kesulitan untuk menggali gagasan-gagasannya.
        Makalah singkat ini takkan mengulang kembali kritik-kritik membangun yang telah disampaikan perihal kandungan film Sang Pencerah.  Pembahasan ini akan mencoba mengulas latar belakang keluarga dan pendidikan, pemikiran Ahmad Dahlan tentang agama, dan peran Ahmad Dahlan dalam Muhammadiyah dan Budi Utomo.
Dari latar belakang diatas maka penyusun dapat mengambil beberapa rumusan masalah, yaitu:
1.    Bagaimana latar belakang keluarga dan pendidikan Ahmad Dahlan?
2.    Bagaimana pemikiran Ahmad Dahlan tentang agama?
3.    Bagaimana hubungan Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah?
4.    Bagaimana hubungan Ahmad Dahlan dengan Budi Utomo?
B.  Tujuan Penulisan
1.    Mengetahui latar belakang keluarga dan pendidikan Ahmad Dahlan.
2.    Mengetahui pemikiran Ahmad Dahlan tentang agama.
3.    Mengetahui hubungan Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah.
4.    Mengetahui hubungan Ahmad Dahlan dengan Budi Utomo.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Latar belakang keluarga dan pendidikan
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Ia termasuk keturunan yang kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim, salah seorang yang terkemuka di antara Walisongo, yaitu pelopor penyebaran agama Islam di Jawa.  Silsilahnya tersebut ialah Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana 'Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).
Pada umur 15 tahun, Ahmad Dahlan pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Ketika pulang kembali ke kampungnya tahun 1888, ia berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah dan menetap selama dua tahun. Pada masa ini, ia sempat berguru kepada Syeh Ahmad Khatib yang juga guru dari pendiri NU, KH. Hasyim Asyari. Pada tahun 1912, ia mendirikan Muhammadiyah di kampung Kauman, Yogyakarta.
Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. Ahmad Dahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah. Disamping itu KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H. Abdullah. la juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. Ahmad Dahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Nyai Aisyah (adik Adjengan Penghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Ia pernah pula menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

B.  Pemikiran K.H Ahmad Dahlan tentang Agama
Secara formal K.H Ahmad Dahlan dapat dikatakan tidak pernah memperoleh pendidikan. Sebagian besar pengetahuan yang dimiliki diperoleh sacara otodidak. Sementara kemampuan dasar baca tulis diperoleh dari ayah, sahabat, dan saudara iparnya. Namun menjelang dewasa K.H Ahmad Dahlan mulai belajar ilmu fikih kepada Kyai Muhammad Saleh dan ilmu nahu yaitu Kyai Muhsin. Pengetahuan K.H Ahmad Dahlan yang luas dan mencakup berbagai macam disiplin ilmu, menjadikan K.H Ahmad Dahlan tumbuh sebagai orang yang arifdan tajam pemikirannya serta memiliki pandangan yang jauh ke depan.
Rasa ingin tahu yang besar mendorong K.H Ahmad Dahlan memanfaatkan kesempatan untuk belajar. Demikain pula ketika K.H Ahmad Dahlan naik haji setelah dewasa pada usia 22 tahun yaitu pada tahun 1890, waktu yang ada dipergunakan untuk belajar kepada Imam Syafi’I Sayyid Bakir Syantha selama sekitar 2 tahun. Demikaian pula ketika beliau naik haji 13 tahun kemudian ( 1903 ) bersama putranya Siraj Dahlan yang berusia 13 tahun
Sesuai dengan bahan dan sumber yang ada, pokok-pokok pikiran dan pandangan K.H Ahmad Dahlan sebagaimana diuraikan dibawah ini:
1.        Dalam bidang aqidah K.H Ahmad Dahlan sejalan dengan pandangan dan pemikiran ulama SALAF
2.        Menurut pandangan K.H Ahmad Dahlan, beragama itu beramal artinya berkarya dan membuat sesuatu, melakukan tindakan sesuai dengan isi pedoman isi Al-Qur’an dan sunnah. Orang yang beragama adalah orang yang menghadapkan  jiwanya dan hidupnya hanya kepada Allah SWT yang dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan seperti rela berkorban harta benda miliknya maupun dirinya sendiri, serta bekerja dalam kehidupannya untuk Allah.
3.        Dasar pokok hukum islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Jika dari keduanya tidak diketemukan kaidah hokum yang eksplisit maka ditentukan berdasarkan kepada penalaran dengan menggunakan kemampuan berfikir logis ( akal pikiran )
4.        Terdapat lima jalan untuk memahanmi Al-Qur’an yaitu mengerti artinya, memahami maksudnya ( tafsir ), selalu bertanya kepada diri sendiri, apakah larangan agama yang telah diketahui ditinggalkan dan menjalankan perintah agamanya, tidak mencari ayat lain sebelum isi ayat dikerjakan.
5.        K.H Ahmad Dahlan menyatakan bahwa tindakan nyata adalah wujud konkrit dari penerjemahan Al- Qur’an dan organisasi adalah wadah dari tindakkan nyata tersebut. Untuk memperoleh pemahaman yang demikian orang islam harus terus memperluas dan mempertajam kemampuan akal pikiran
6.        Sebagai landasan orang suka dan bergembira maka orang tersebut harus yakin bahwa Mati adalah Bahaya, tetapi lupa kepada kematian merupakan bahaya yang jauh lebih besar dari kematian itu sendiri. Disamping itu, K.H Ahmad Dahlan menyatakan bahwa harus ditanamkan dalam hati seseorang gerak hati unutk maju dengan landasan moral dan keikhlasan dalam beramal
7.        Kunci persoalan peningkatan kualitas hidup dan kemajuan umat islam ialah pemahaman terhadap berbagai ilmu pengetahuan yang sedang berkembang dalam tata kehidupan masyarakat.
8.        Pembinaan generasi muda dilakuakan K.H Ahmad Dahlan dengan jalan interaksi langsung. Untuk melaksanakan teorinya tersebut K.H Ahmad Dahlan mendirikan kepanduan yang kemudian diberi nama  hizbul wathan
9.        Strategi menghadapi perubahan social akibat modernisasi adalah merujuk kembali kepada Al-Qur’an, menghilangkan sikap fanatisme. Strategi tersebut dilaksanakan denagn menghidupkan jiwa dan semangat Ijtihad  melalui peningkatan kemampuan berfikir logis – rasional dan mengkaji realitas social.
10.    Objek gerakan dakwah Muhammadiyah meliputi rakyat kecil, kaum fakir-miskin, para hartawandan para intelektual
Sehubungan dengan pokok-pokok pikiran K.H Ahmad Dahlan, Kyai Haji AR Fachrudin ( ketua PP Muhammadiyah sejak 1968 ) dalam buku Menuju Muhammadiyah Muhammadiyah adalah:
1.        Meluruskan tauhid, peng-Esaankepada Allah SWT. Hanya Allah yang wajib disembah dan wajib menjauhi segala larangannya sekaligus menjalalankan perintahnya
2.        Hanya Allah yang Khaliq dan selain Allah semuanya adalah mahluk. Karena semua akan hancur kecuali Allah SWT
3.        Meluruskan cara-cara beribadah menurut contoh ataupun yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW
4.        Mengembangkan akhlakul karimah dan etika social
5.        Mengembangkan tata hubungan social sesuai dengan tuntunan islam.
Sebagai seorang pemimpin menurut R.H Hadjid, K.H Ahmad Dahlan memiliki beberapa keutamaan dibandingkan denngan pemimpin lainnyakelebihan dan keutamaan tersebut adalah : cerdas, tinggi rasa cintanya kepada Allah SWT memiliki strategi metodologi memahami islam seperti strategi militer. K.H Ahmad Dahlan mampu mempergunakan senjata dengan baik daripada yang memilikinya.
Pokok pemikiran K.H Ahmad Dahlan yang terdapat dalam buku “ falsafah ajaran K.H Ahmad Dahlan dan 17 kelompok ayat-ayat Al- Quran ajaran K.H Ahmad Dahlan” merupakan 7 kerangka pemikiran yaitu :
1.        Ulama adalah orang yang berilmu dan hidupnya kreatif,serta mengembangkan ilmunya dengan iklas. Jiwa iklas dilukiskan sebagai orang yang mengerti hakikat hidup dan dunia, sehingga ia tidak takut untuk menghadapi mati, akan tetapi justru akan selalu mengingat datingnya kematian.
2.        Untuk mencari kebenaran orang tidak boleh merasa benar sendiri. Oleh karena itu, orang tersebut harus berani berdialog dan diskusi dengan semua pihak walaupun dengan orang atau golongan yang bertentangan dan berbeda pendapat
3.        Bersedia merubah pikiran dengan sikap terbuka. Sikap demikian menjadikan seseorang selalu berusaha untuk memperbaharui, memikirkan dan menyelidiki tindakan dan pikiran yang sudah biasa dilakukan. Orang yang bersikap terbuka tidak akan mengikatkan diri kepada tradisi dan rutinitas.
4.        Dalam mencapai tujuan hidup manusia harus menggunakan bekerjasama dan dengan menggunakan akal.
5.        Cara mengambil keputusan yang benar harus dilakukan dengan kesediaan mendengarkan segala pendapat, berdiskusi dan membandingkan serta menimbang baru kemudian memutuskan sesuai akal fikiran. Keputusan akal fikiran haus didasarkan kepada pertimbangan akhlak ( etika ) yaitu ketentuan baik dan buruk berdasarkan hati yang jernih
6.        Berani mengorbankan harta benda untuk menegakkan dan membela kebenaran
7.        Mempelajari teori-teori pengetahuan dan keterampilan melalui proses bertingkat.
Melihat berbagai prinsip dan pemikiran K.H Ahmad Dahlan diatas , K.H Ahmad Dahlan menempatkan akal dan logika sebagai basis pengetahuan. Sikap demikian lebih tegas dari pemimpin muhammadiyah generasi berikutnya dalam menempatkan akal dan logika.

C.  Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah salah satu gerakan sosial Islam yang terpenting di Indonesia sejak sebelum Perang Dunia II. Organisasi ini didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, yang merupakan perkumpulan Islam modern. Ahmad Dahlan merupakan seorang pemikir yang menekankan pada permasalahan praktis. Kesemuanya itu memiliki perspektif, diantaranya adalah pemikiran Ahmad Dahlan mengenai keagamaan dan pemurniannya, kemasyarakatan dan kenegaraan. Keberadaan Muhammadiyah saat itu telah diakui oleh Belanda lewat Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda (Gouvernement besluitt) No. 81 tanggal 22 Agustus 1914, yang diubah dan disempurnakan dengan Surat Keputusan No. 40 tanggal 16 Agustus 1920, diubah dan disempurnakan lagi dengan Surat Keputusan No. 36 tanggal 2 September 1921
Muhammadiyah telah mengadakan pembaharuan pendidikan agama dengan jalan modernisasi sistem pendidikan. Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah yang khas agama dan bersifat umum mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi. Di masa awal kemerdekaan, cukup banyak para kaum terpelajar yang menjalankan kekuasaan pemerintahan Indonesia, berkat pendidikan yang mereka tempuh pada sekolah-sekolah Muhammdiyah pada zaman Belanda dan Jepang. Walau ketika pemerintah Indonesia telah membangun sekolah-sekolah Inpres, Muhammadiyah tetap memberikan dukungannya dalam pengabdian mencerdaskan bangsa, sekolah-sekolah Muhammadiyah tetap diperlukan dalam proses pendidikan.
Pelaksanaan pendidikan dibedakan atas pendidikan formal, informal dan nonformal. Pendidikan formal adalah sebutan bagi sistem pendidikan yang dilembagakan, bertahap, kronologis dan bertingkat-tingkat, mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan informal adalah sebutan untuk proses seumur hidup bagi setiap orang dalam mencari dan menghimpun pengetahuan, keterampilan, sikap dan pengertian yang diperoleh dari pengalaman sehari-hari dan dari pengaruh lingkungan. Pendidikan nonformal adalah sebutan untuk pendidikan berorganisasi dan sistematis yang berlangsung di luar kerangka sistem pendidikan formal, untuk menyediakan beraneka ragam pelajaran tertentu kepada kelompok penduduk tertentu. Didasarkan atas pengertian tersebut, maka dalam penelitian ini yang dimaksud dengan ‘pendidikan’ adalah pendidikan formal.
Proses belajar-mengajar merupakan sesuatu hal yang dirasakan amat penting dalam kehidupan manusia. Saat dilahirkan, kita masih berada dalam keadaan lemah dan bodoh. Tetapi dengan usaha belajar yang dilakukan secara terus-menerus selama masa pertumbuhannya, seseorang akan berkembang menjadi kuat dan mengetahui banyak hal. Pada saat balita, orang tua dan keluarga adalah yang mendidik dan mengajari untuk berbicara, dan membimbingnya untuk dapat membedakan antara yang baik dan buruk. Pada saat seseorang berada dalam masa sekolah, guru yang memberi pengajaran menulis, membaca dan berhitung dan memberi ilmu pengetahuan yang lainnya. Hal tersebut nantinya menyebabkan seseorang menjadi pandai pada tingkatan tertentu.
Para ahli pendidikan mendefinisikan belajar sebagai “a process of progressive behavior adaptation” (Skinner, 1958). Belajar merupakan sebuah proses adaptasi perilaku yang bersifat progresif. Belajar seharusnya akan memberi akibat adanya sifat progresivitas, yaitu adanya tendensi ke arah yang lebih baik dari keadaan sebelumnya. Belajar membutuhkan waktu sampai mencapai sesuatu hasil perilaku yang lebih sempurna daripada perilaku sebelum belajar. Dengan demikian tinggi rendahnya pengetahuan seseorang ditentukan oleh tinggi rendahnya intensitas dalam belajar dan menyerap pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupannya. Guru mempunyai peran yang penting dalam dunia pendidikan. Karl Manheim menyebutkan bahwa guru sebagai kelompok perubahan (agent of change) selain ulama, yang memiliki kesadaran sosial yang tinggi atas apa yang terjadi dalam masyarakat
D.  Ahmad Dahlan dan Budi Utomo
Perjuangan bangsa Indonesia mulai awal abad ke-20 memasuki babak baru. Kita katakan sebagai babak baru, karena mulai awal abad itu perjuangan bangsa Indonesia mulai menggunakan cara-cara organisasi modern. Babak baru itu antara lain ditandai dengan lahir dan berdirinya Budi Utomo.
Budi Utomo didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta oleh dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Sutomo, dll. Tanggal itu kemudian kita kenal sebagai awal dari kebangkitan nasional. Tiap tahun Hari Kebangkitan Nasional kita peringati tentu mempunyai arti tersendiri. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-98 tahun ini diselengarakan pasti mempunyai makna khusus pula.
KH Ahmad Dahlan, selagi hayatnya banyak mengadakan kontak komunikasi dengan Budi Utomo. Bahkan tahun 1909, beliau masuk Budi Utomo. Ceriteranya begini. Dr. Wahidin Sudirohusodo mempunyai pembantu di bidang kedokteran, Joyosumarto namanya. Beliau bertemu dengan pengurus Budi Utomo pertama kali atas jasa baiknya. Ia mempunyai banyak famili di Kauman. Suatu hari ketika ia bersilaturrahim di Kauman, beliau mengajak singgah ke rumah. Dari pertemuan itu beliau mulai mengetahui Budi Utomo. Kemudian keinginan beliau hendak bertemu dengan pengurus Budi Utomo disampaikan kepadanya. Pertemuan pertama KH Ahmad Dahlan dengan pengurus Budi Utomo terjadi pada rapat pengurus di rumah dr. Wahidin Sudirohusodo, di Ketandan Yogyakarta. Setelah beberapa kali menghadiri rapat pengurus, beliau menyatakan ingin menjadi anggota Budi Utomo. Keinginan beliau menjadi anggota Budi Utomo itu dapat diibaratkan gayung bersambut kata
berjawab, tidak bertepuk sebelah tangan. Artinya, keinginan itu diterima dengan tangan terbuka dan disambut dengan senang hati. Bahkan beliau diminta menjadi pengurus. Beliau mengajak para santri dan sahabatnya yang tinggal di Kauman dan mereka pun menyambut baik mau menjadi anggota Budi Utomo, yaitu RH Syarkawi, H. Abdulgani, HM
Syuja', HM Hisyam, HM Fakhruddin, dan HM Tamim. Mereka kemudian kita kenal sebagai pemimpin Muhammadiyah.
KH Ahmad Dahlan masuk Budi Otomo dan Budi Utomo dimasuki KH Ahmad Dahlan saling memperoleh manfaat. Bagi Budi Utomo, kehadiran beliau menjadi anggota tentu dirasakan menambah gizi dan vitamin. Sebab beliau beriman, bertakwa, berakhlak, berilmu, suka beramal, dan berpikiran maju. Sedangkan beliau dalam Budi Utomo banyak belajar
tentang organisasi dan mendapat kesempatan untuk berda'wah kepada para pengurus Budi Utomo, setelah selesai rapat.
Ada manfaat lain yang diperoleh dan dirasakan oleh KH Ahmad Dahlan setelah berkenalan dan menjadi anggota Budi Utomo. Beliau dapat memberi pendidikan agama Islam kepada para siswa Kweekschool (Sekolah Guru) di Jetis, Yogyakarta. Maksud baik itu terpenuhi setelah disampaikan kepada Kepala Kweekschool, R. Boedihardjo, yang juga menjadi anggota pengurus Budi Utomo. Meskipun pelaksanaannya di luar jam sekolah, pada setiap hari Sabtu sore, dengan metode induktif, ilmiah, naqliah, dan tanya jawab. Pendidikan agama Islam yang beliau berikan itu ternyata menarik perhatian dan memuaskan bagi para siswa. Karena itu, di antara mereka ada yang usul kepada beliau supaya pemberian pendidikan agama Islam ditambah. Mereka tidak keberatan datang ke rumah beliau. Sebab, pendidikan agama Islam seminggu hanya satu kali dirasakan masih kurang. Atas usul itu disepakati tambahan pendidikan agama Islam diberikan tiap Ahad di rumah beliau.
Pada sekitar tahun 1912, KH Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Ibtidaiyyah Diniyyah Islamiyyah. Madrasah itu menempati ruangan kamar tamu beliau yang di dalamnya berisi meja, kursi panjang, dan papan tulis. Bulan pertama muridnya baru 9 (sembilan) anak dan enam bulan kemudian muridnya berjumlah 20 anak. Pada bulan ke tujuh dapat bantuan guru umum dari Budi Utomo. Pelajaran yang diberikan di Madrasah itu pengetahuan umum dan pelajaran agama di kelas. Pada waktu itu anak-anak masih merasa asing pada pelajaran dengan sistem sekolah.
Di antara para siswa Kweekschool yang belajar agama Islam di rumah beliau tiap hari Ahad ternyata ada yang memperhatikan ruangan kamar tamu beliau ada meja, bangku, dan papan tulis. Siswa tersebut menanyakan hal itu kepada KH Ahmad Dahlan. Beliau menjawab ruangan itu untuk Madrasah Ibtidaiyyah Diniyyah Islamiyyah yang memberikan pelajaran agama dan pengetahuan umum kepada anak-anak. Beliau sendiri yang memegang sekolah dan menjadi guru pelajaran agama. Ia member saran kepada beliau agar lebih baik sekolah itu tidak hanya dipegang dan diurus oleh beliau sendiri, karena terkesan seperti milik beliau sendiri. Apabila beliau meninggal dan ahli waris tidak mampu meneruskan, berhentilah sekolah itu. Karena itu, hendaklah sekolah itu dipegang oleh sebuah organisasi supaya berlangsung lama.
Kehendak kuat untuk merealisasi secara kongkrit riil perintah Allah dalam QS Ali Imran : 104, diikuti dengan pembukaan sekolah atau madrasah, selanjutnya mempertimbangkan dorongan positif dari siswa Kweekschool, dan tidak melupakan bantuan dari Budi Utomo, membuahkan hasil Muhammadiyah berdiri pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 M.
Betapa dekat hubungan antara KH Ahmad Dahlan dan Budi Utomo, setelah Muhammadiyah berdiri, dapat dibuktikan antara lain bahwa rumah beliau di Kauman Yogyakarta, pada tahun 1917 M, menjadi tempat kongres Budi Utomo. Dalam kongres itu beliau bertabligh yang mempesona para peserta kongres. Selesai kongres banyak surat dikirim dari berbagai tempat ke Pengurus Besar Muhammadiyah yang meminta untuk didirikan cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai tempat itu.

BAB III
PENUTUP
Simpulan
Nama kecil KH. Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Pada umur 15 tahun, Ahmad Dahlan pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Pada periode ini, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, Sepulang dari Mekkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri Aisyiyah.
Sebagai seorang pemimpin menurut R.H Hadjid, K.H Ahmad Dahlan memiliki beberapa keutamaan dibandingkan denngan pemimpin lainnyakelebihan dan keutamaan tersebut adalah : cerdas, tinggi rasa cintanya kepada Allah SWT memiliki strategi metodologi memahami islam seperti strategi militer. K.H Ahmad Dahlan mampu mempergunakan senjata dengan baik daripada yang memilikinya. Pokok pemikiran K.H Ahmad Dahlan yang terdapat dalam buku “ falsafah ajaran K.H Ahmad Dahlan dan 17 kelompok ayat-ayat Al- Quran ajaran K.H Ahmad Dahlan” merupakan 7 kerangka pemikiran
Muhammadiyah adalah salah satu gerakan sosial Islam yang terpenting di Indonesia sejak sebelum Perang Dunia II. Organisasi ini didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912, yang merupakan perkumpulan Islam modern. Ahmad Dahlan merupakan seorang pemikir yang menekankan pada permasalahan praktis. Kesemuanya itu memiliki perspektif, diantaranya adalah pemikiran Ahmad Dahlan mengenai keagamaan dan pemurniannya, kemasyarakatan dan kenegaraan. Keberadaan Muhammadiyah saat itu telah diakui oleh Belanda lewat Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda (Gouvernement besluitt) No. 81 tanggal 22 Agustus 1914, yang diubah dan disempurnakan dengan Surat Keputusan No. 40 tanggal 16 Agustus 1920, diubah dan disempurnakan lagi dengan Surat Keputusan No. 36 tanggal 2 September 1921
Pertemuan pertama KH Ahmad Dahlan dengan pengurus Budi Utomo terjadi pada rapat pengurus di rumah dr. Wahidin Sudirohusodo, di Ketandan Yogyakarta. Setelah beberapa kali menghadiri rapat pengurus, beliau menyatakan ingin menjadi anggota Budi Utomo. Keinginan beliau menjadi anggota Budi Utomo itu dapat diibaratkan gayung bersambut kata berjawab, tidak bertepuk sebelah tangan. Artinya, keinginan itu diterima dengan tangan terbuka dan disambut dengan senang hati. Bahkan beliau diminta menjadi pengurus. Beliau mengajak para santri dan sahabatnya yang tinggal di Kauman dan mereka pun menyambut baik mau menjadi anggota Budi Utomo, yaitu RH Syarkawi, H. Abdulgani, HM Syuja', HM Hisyam, HM Fakhruddin, dan HM Tamim. Mereka kemudian kita kenal sebagai pemimpin Muhammadiyah.

DAFTAR PUSTAKA

Mulkhan, Abdul Munir. 1990. Pemikiran K.H Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah: Dalam Perspektif Perubahan Social. Jakarta: Bumi Aksara.

K.H. Ahmad Dahlan dan Budi Utomo. http://www.hi-nan.com/web/node/18 diakses pada tanggal 12 November 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pictures