Kamis, 04 November 2010

Interaksi Desa Kota


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Modernisasi telah banyak membawa perubahan cara hidup warga desa dan warga kota khususnya, dan warga negara Indonesia umunya. Kemajuan di bidang pendidikan, teknologi, sosial-ekonomi, budaya dalam beberapa Pelita telah meningkatkan tingkat hidup warga desa dan warga kota.
Pengaruh kota di tengah-tengah atau sekitar pedesaan semakin bayak terasa dan Nampak semakin jelas. Rakyat Indonesia telah ikut mengubah wajah pedesaan. Panjang jalan, kelas jalan, kepadatan jalan di daerah pedesaan telah mengalami peningkatan, juga jenis dan jumlah kendaraan bermotor telah menjangkau desa-desa. Ini berate bahwa frekuensi lalu-lintas, perdagangan dan frekuensi kontak sosial uikut meningkat.
Interaksi yang timbul antara desa dan kota itu telah menimbulkan beberapa gejala sosial, eknomi, budaya, dan politik di desa, di kota dan disepanjang jalur hubungan antara desa-kota. Beberapa aspek mengenai kehidupan keluarga, pendidikan keluarga, pemukiman desa dan kota, lingkungan pedesaan dan kota, mata pencaharian warga desa dan kota menunuukkan corak yang berbeda. Berbagai keserasian dan juga berbagai kesenjangan timbul. Oleh karena itu desa dankota kita masih mencari jalan ke arah keserasian.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan desa?
2.      Apa yang dimaksud dengan kota?
3.      Bagaimana interaksi desa-kota?
4.      Bagaimana yang dimaksud dengan teori interaksi?
5.      Bagaimana dampak interaksi?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui yang dimaksud dengan desa.
2.      Mengetahui yang dimaksud dengan kota.
3.      Mengetahui interaksi desa-kota.
4.      Mengetahui yang dimaksud dengan teori interaksi.
5.      Mengetahui dampak interaksi.

BAB II
PEMBAHASAN

A.  Desa
1.    Pengertian Desa
Desa adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu ujud atau kenampakan di muka bumi yang di timbulkan oleh unsure-unsur fisiografi, social, ekonomi, politik, dan cultural yang saling berinteraksi antar unsure tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain.
2.    Fungsi dan Potensi Desa
a.    Fungsi desa:
1)      Dalam hubungannya dengan kota, maka desa yang merupakan hinterland  atau daerah dukung berfungsi sebagai suatu daerah pemberi bahan makanan pokok.
2)      Desa ditinjau dari sudut potensi ekonomi berfungsi sebagai lubung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja (man power) yang tidak kecil artinya.
3)      Dari segi kegiatan kerja (occupation) desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industri, desa nelayan dan sebagainya.
b.    Potensi Desa
Desa mempunyai potensi fisis dan potensis nonfisis
1)   Potensi fisis meliputi antara lain:
·      Tanah, dalam arti sumer tambang dan mineral, sumber tanaman yang merupakan sumber mata pencaharian dan penghidupan.
·      Air, dalam arti sumber air, keadaan atau kualitas air dan tata airnya untuk kepentingan iringasi pertanian dan keperluan sehari-hari.
·      Iklim, yang merupakan peranan penting bagi desa agraris
·      Ternak, dalam artian fungsi ternak di desa sebagai sumber tenaga sumber bahan makan dan sumber keuangan.
·      Manusia, dalam arti tenaga kerjasebagai pengoah tanah dan sebagai produsen.
2)   Potensi non fisis meliputi antara lain:
·      Masyarakat desa yang hidup berdasarkan gotong royong dan dapat merupakan suatu kekuatan berproduksi dan kekuatan membangun atau dasar kerja sama dan saling pengertian.
·      Lembaga-lembaga social, pendidikandan organisasi-organisasi social desa yang dapat memberikan bantuan social serta bimbingan dalam arti positif.
·      Aparatur atau pamong desa yang kreatif dan berdisiplin sumber kelancaran dan tertibnya pemerintah desa. (Bintarto, 1977:1920)
Potensi desa tidak sama, karena geografis dan keadaan pendudukannya berbeda, luas tanah macam tanah dan tingkat kesuburan tanah yang tidak sama. Sumber air dan tata air yang berlainan menyebabkan cara penyesuaian atau corak kehidupannya berbeda. Maju mundurnya desa dapat tergantung pada beberapa factor antara lain dapat di sebutkan di sini:
·      Potensi desa yang mencakup potensi sumber daya alam dan potensi penduduk warga desa beserta pamongnya.
·      Interaksi antar desa dengan kota, antara desa dengan kota tercakup di dalamnya perkembangan komunikasi dan transportasi.
·      Lokasi desa terhadap daerah-daerah di sekitarnya yang lebih maju. 
3.    Faktor-faktor pembinaan masyarakat desa
Dalam perencanaan pembangunan, biasanya masalah pembinaan masyarakat ini di letakkan pada bagian akhir dari suatu penelitian. Masalah pembinaan ini ikut juga menentukan keberhasilan ataupun kegagalan suatu program pembangunan masyarakat desa, sehingga kedudukannya tidak kalah penting dengan penelitiannya. Keberhasilan pembinaan masyarakat di pedesan tergantungpada beberapa factor, yaitu:
a.         Para pembinaan
b.        Masyarakat yang di bina
c.         Daerah pemukuman penduduk
d.        Materi dan obyek pembinaan
e.         Cara pembinaan
f.         Pembiayaan yang disediakan
Pembianaan masyarakat desa dapat di anggap sesuatu yang kadang-kadang mudah, kadang-kadang juga sulit, tergantung ketrampilan para Pembina dan strata atau tingkat pendidikan masyarakat yang di bina. Hasil dari pembinaan dapat dilihat pada kehidupan dan penghidupan masyarakat sebelum dan sesudah mendapat pembinaan dan penyuluhan. Jadi, ada kemungkinan dapat terjadi, bahwa pembinaan telah berjalan lancar dan sukses, tetapi setelah melihat kehidupan masyarakat kehidupan masyarakat di kemudian hari tidak menunjukkan kemajuan, maka keadaan inilah yang menjawab bahwa pembinaan kurang atau tidak berhasil. Ini jelas bahwa pembinaan masyarakat tidak hanya member penerangan, tetapi harus dapat memberikan contoh konkrit secara aktif dan bersinambungan sampai mereka dapat berdiri sendiri.

B.  Kota
1.    Pengertian Kota
Menurut Bintarto: Dari segi geografi, kota data diartikan sebagai suatu system jaringan kehidupan manusia yang di tandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan di warnai dengan strata social-ekonomi yang hiterogen dan coraknya materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang di timbulkan oleh unsure-unsur alami dan nonalami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistic di bandingkan dengan daerah belakannya.
Istilah kota dan daerah perkotaan di bedakan di sini karena ada dua pengertian yaitu: kota untuk city dan daerah perkotaan untuk urban. Istilah city di identikkan dengan kota, sedangkan urban berupa suatu daerah yang memiliki suasana kehidupan dan peghidupan modern, dapat di sebut daerah perkotaan. Penggolongan kota dapat didasarkan pada fungsi, struktur mata pencaharian, tipe masyarakat, jumlah penduduknya, besar kecilnya, daerah pemukiman dan sebagainya. Jadi penggolongan kota ini dapat dilihat dari segi ekonomi, segi sosiologi, segi demografi, dan segi geografis yang abstrak. Seperti halnya tentang pendefinisian kota, dalam penggolongan kota, dalam penggolongan ini juga terdapat berbagai kriteria, lebih-lebih mengenai penggolongan yang kuantitatif atau numeric. Penggolongan atas angka-angka ini di sebut penggolongan numeric dan penggolongan lainnya di sebut penggolongan nonnumeric. Perbedaan penggolongan ini di sebabkan antara lain: perbedaan kepadatan, perbedaan tingkat teknologi dan budayaan. Di Indonesia penggolongan yang sudah di tentukan  oleh Undang-undang No.18 kesemuanya pada umumnya di dasarkan pada jumlah penduduk.
2.    Struktur Kota
Dari segi geografi studi tentang desa dan kota adalah penting dan menarik, karena dalam disipin ini di perhatikan mengenai hal lokasi kota, kedudukan kota, hubungan kota dengan daerah sekitarnya (location, site, and situation). Sistem zoning dan perubahan-perubahan yang timbul, perkembangan kota beserta masalah-masalah yang di hadapi. Menurut Freeman (1958), di katakan bahwa ‘Planing has an inescapable basic’. Dengan pernyataan ini maka geografi akan banyak membantu di bidang perencanaan kota. Struktur penduduk kota dapat di lihat dari jenis kelamin, umur, jenis mata pencaharian, segregasi (pemisahan yang dapat menimbulkan kompleks atau kelompok). Unsur-unsur geografi tidak hanya dapat membatasi luas daerah semacam ini tetapi dapat pula menimbulkan ‘natural areas’. Masalah struktur penduduk kots dari segi segregasi perlu mendapat perhatian demi keserasian dan ketenangan hidup di kota.
3.    Ciri-ciri kota
Tanda pengenal kota dapat di lihat dari ciri fisis dan ciri sosial. Menurut Bintarto dalam bukunya Pengantar Geografi Kota, maka beberapa ciri fisis dapat di tunjukkan sebagai berikut:


a.    Tempat-tempat untuk pasar dan pertokoan.
b.    Tempat-tempat parkir.
c.    Tempat-tempat rekreasi dan olah raga. 

Sebagai ciri social dapat di kemukakan sebagai berikut:
a.    Pelapisan social ekonomi.
b.    Individualisme.
c.    Toleransi social.
d.   Jarak social.
e.    Penilaian social.



C.  Interaksi Desa-Kota
1.    Pengertian Interaksi
Menurut Roucek dalam Bintarto, interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal-balik dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung, melalui berita yang didengar atau melalui surat kabar.
Interaksi adalah kontak atau hubungan yang terjadi antara dua wilayah atau lebih (perkotaan dengan pedesaan) beserta hasil hubungannya. Interaksi antara desa dan kota terjadi karena berbagai faktor atau unsur yang ada dalam desa, kota dan diantara desa dan kota. Kemajuan masyarakat desa, perluasan jaringan jalan desa-kota, integrasi atau pengaruh kota terhadap desa, kebutuhan timbal balik desa-kota telah memacu interaksi desa-kota.
Dengan adanya kemajuan di bidang perhubungan dan lalu lintas antar-daerah, maka sifat isolasi desa berangsur-angsur berkurang. Desa-desa yang dekat dengan kota telah banyak mendapat pengaruh kota sehingga persentase penduduk desa yang bertani berkurang dan beralih dengan pekerjaan nonagraris. Daerah-daerah pedesaan di perbatasan kota yang dipengaruhi oleh tata kehidupan kota disebut “rur-ban areas” singkatan dari “rural-urban areas”.
Dengan perkembangan di bidang prasarana dan sarana transportasi ada kemungkinan gejala urbanisasi. Dalam hal ini, perpindahan penduduk desa ke kota dapat berkurang dan mereka cukup dapat melakukan tugasnya di kota dengan memanfaatkan angkutan umum dan selanjutnya menjadi penglaju. Perkembangan ini juga mempengaruhi bidang-bidang lain, seperti pendidikan dan perdagangan.
Gedung-gedung sekolah dapat didirikan juga di desa-desa yang letaknya jauh dari kota dan para pengajarnya dapat datang bertugas dari kota kecamatan dan kota kabupaten.
Perdagangan antardesa-kota yang berupa barang-barang hasil kerajinan tangan dan terutama hasil pertanian dapat terlaksana dengan lancar sehingga para konsumen di kota masih bisa membeli sayur-mayur dan buah-buahan yang masih segar. Pasar-pasar kecil juga bermunculan di tempat-tempat tertentu di tepian kota.
Daerah-daerah rurban ini makin lama berkembang sebagai desa dagang. Hasil-hasil bumi dari desa dan hasil industri dari kota diperdagangkan di daerah rurban ini. Bertambahnya penduduk dan jaringan lalu lintas di daerah ini akan mempercepat terjadinya suatu kota kecil yang baru.
2.    Zone Interaksi
Zone- zone kota- desa yang dapat menimbulkan berbagai wujud interaksi desa- kota:
a.    City diidentikkan dengan kota
b.    Suburban adalah suatu area yang lokasinya dekat pada pusat kota dengan luas yang mencakup daerah penglaju (subdaerah perkotaan).
c.    Suburban fringe adalah suatu area yang melingkari suburban dan merupakan daerah peralihan antara kota dan desa (jalur tepi subdaerah perkotaan).
d.   Urban fringe adalah semua daerah batas luar kota yang mempunyai sifat-sifat mirip kota kecuali inti kota (jalur tepi daerah perkotaan aling luar).
e.    Rural-urban fringe adalah jalur daerah yang terletak antara kota dan desa yang ditandai dengan penggunaan tanah campuran (jalur batas desa-kota).
Zone suburban, suburban fringe, urban fringe dan rural urban fringe yaitu daerah-daerah yang memiliki suasana kehidupan modern yang dapat disebut daerah perkotaan.
3.    Wujud interaksi desa-kota :
a.    Pegerakan barang dari desa ke kota atau sebaliknya seperti pemindahan hasi pertanian, produk industri dan barang tambang.
b.    Pergerakan gagasan dan informasi terutama dari kota ke desa
c.    Pergerakan manusia dalam bentuk rekreasi, urbanisasi, mobilitas penduduk baik yang sifatnya sirkulasi maupun komutasi.
Interaksi antara desa - kota melahirkan suatu perkembangan baru bagi desa maupun bagi kota. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan potensi yang dimiliki desa maupun kota, dan adanya persamaan kepentingan.
4.    Faktor yang memepengaruhi interaksi
              Menurut Edward Ulman ada 3 faktor penyebab interaksi antarwilayah, yaitu :
a. Region Complementary (wilayah yang saling melengkapi)
Wilayah yang memiliki potensi sumber daya yang berbeda-beda baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Perbedaan sumber daya kota dan desa menyebabkan timbulnya interaksi. Jadi ada kebutuhan saling melengkapi atau komplementaritas. Ini didorong oleh permintaan dan penawaran. Perancis berdagang anggur dengan Belanda karena Belanda merupakan konsumennya. Relasi komplementaritas hanya terjadi jika tawaran bermanfaat bagi pihak yang minta. Manfaatnya ditentukan oleh banyak hal seperti : budaya, pengetahuan, teknik, kondisi kehidupan dan sebagainya. Semakin besar komplementaritas, semakin besar arus komoditas.
Manfaat Interaksi Desa-Kota bagi Perkotaan :
1)   Terpenuhinya sumber daya alam sebagai bahan mentah/bahan baku industri.
2)   Terpenuhinya kebutuhan pokok yang dihasilkan pedesaan.
3)   Terpenuhinya kebutuhan tenaga kerja yang dibutuhkan bagi perkotaan.
4)   Tersedianya tempat pemasaran hasil industri.
Manfaat Interaksi Desa-Kota bagi Pedesaan :
1)   Terpenuhinya barang-barang yang tidak ada di desa
2)   Masuknya pengaruh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari kota ke pedesaan.
3)   Membuka lapangan kerja baru di sektor pertanian.
b. Intervening Opportunity (kesempatan untuk berintervensi)
Adalah adanya kesempatan untuk timbulnya interaksi antarwilayah dan dapat memenuhi kebutuhan sumber daya wilayah tersebut. Jadi, semakin besar intervening opportunity, semakin kecil arus komoditas.
c. Spatial Transfer Ability (kemudahan pemindahan dalam ruang)
Kemudahan pemindahan dalam ruang baik berupa barang, jasa, manusia maupun informasi. Proses pemindahan dari kota ke desa atau sebaliknya dipengaruhi antara lain :
1)   Jarak mutlak maupun jarak relatif antarwilayah
2)   Biaya transportasi dari satu tempat ke tempat yang lain
3)   Kelancaran transportasi antarwilayah
Jadi, semakin mudah transfer abilitas, semakin besar arus komoditas.

D.  Teori-teori Interaksi Wilayah
1.    Teori interaksi wilayah
Teori ini diperkenalkan oleh W. J. ReilLy menjadi teori interaksi wilayah dengan rumus:
Ket: kekuatan interaksi wilayah di ukur dengan memfokuskan pada perbandingan jumlah penduduk dan jarak antar wilayah.
Namun teori ini dapat berlaku bila memenuhi syarat-syarat seperti:
a.    Kondisi sosial, budaya, ekonomi masyarakat sama.
b.    Topografinya sama.
c.    Kondisi sarana dan prasarana transportasi sama.
2.    Teori titik henti (breaking point theory)
Pokok-pokok teorinya adalah:

Keterangan:
D=jarak
P=populasi
n=1
Fungsinya:
Memperkirakan lokasi garis batas yang memisahkan wilayah-wilayah perdagangan dari dua buah kota yang berbeda ukurannya.
Penempatan lokasi industry atau pelayanan sosial antara dua wilayah.
3.    Teori konektivitas
Teori ini menilai kekuatan wilayah berdasarkan nilai Indeks Konektivitas yang dihitung dengan rumus:
Β=Indeks konektivitas
E=jumlah jaringan jalan
V=jumlah kota yang dihubungkan
Pokok teorinya:
a.    Hubungan untuk wilayah memiliki spatial network system seperti jaringan transportasi
b.    Kompleksitas jaringan menjadi indicator kekuatan interaksi.

E.  Dampak Interaksi Desa- Kota
Interaksi antara desa dan kota memiliki unsur timbal balik. Walaupun demikian, arah atau arus pengaruh itu masih juga tergantung pada kekuatan dominasi dari salah satu pihak.
Urbanisai, ruralisasi, sirkulasi, ulang-alik adalah berbagai wujud dari hubungan atau interaksi antar-desa kota.
Pengaruh positif dari penetrasi kota ke desa adalah:
1.    Pemerintah; dalam hal ini melewati petugas-petugas pemerintah, lembaga atau instansi pemerintah, mass media seperti harian, radio, televisi.
2.    Mahasiswa; dalam hal ini mahasiswa yang melaksanakan tugas akademis KKN di desa-desa, pelaksanaan survei kecil.
3.    Tenaga Badan Usaha Tenaga Sukarela Indonesia (BUTSI) yang telah sejak lama membantu pemerintah desa di bidang pembangunan desa.
4.    ABRI yang dalam progam manunggalnya dengan rakyat pedesaan telah banyak membantu dan mengajak masyarakat pedesaan bersama-sama membina wilayah desanya.
5.    Migrasi atau mobilitas yang terjadi antar kota–desa seperti urbanisasi, sirkulasi, dan nglaju yang membawa juga arus teknologi, kebudayaan, dan gaya hidup dari kedua belah pihak.
6.    Lembaga swasta yang juga nampak ikut aktif dalam membina masyarakat pedesaan.
7.    Cakrawala pengetahuan penduduk desa menjadi lebih meningkat.
8.    Kemajuan di bidang pendidika desa.
9.    Meningkatkan frekuensi hubungan sosial-ekonomi karena perkembangan tramsportasi.
10.     Teknologi membantu pengembangan sector pertanian.
11.     Kemajuan dalam pelestarian lingkungan karena banyaknya interaksi dengan ahli dari berbagi ilmu.
12.     Meningkatnya wiraswasta.
13.     Pengetahuan dan kesadaran pentingnya keluarga kecil.
14.     Berkembangnya koperasi dan organisasi sosial.
Pengaruh negatif yang dialami daerah pedesaan:
1.    Pengaruh fashion trend dari kota menyebabkan orientasi ke pertanian berubah.
2.    Pengaruuh televisi memberikan gambaran tentang kejahatan yang meningkatkan kriminalitas.
3.    Banyaknya pemuda yang bekerja ke kota menyebabkan desa kekurangan tenaga produktif.
4.    Masuknya investor mengubah tata guna lahan desa menjadi pemukiman maupun bangunan lain.
5.    Penetrasi kebudayaan kota yang tidak sesuai cenderung mengganggu tata pergaulan atau seni budaya desa.
6.    Problem pangan, problem pengangguran, problem lingkungan, dll.

F.   Dampak Interaksi terhadap Pembangunan dan Disiplin
1.    Geografi Pembangunan
Menurut Bintarto dalam bukunya berjudul Pengantar Geografi Pembangunan, (1975), dijelaskan sebagai berikut: Geografi pembangunan adalah suatu studi yang memperhatikan aspek- aspek geografi yang menunjang sesuatu pembangunan wiayah. Wiayah yang dimaksudkan disini adalah wilayah pedesaan dan atau wilayah perkotaan, dapat pula diartikan sebagai daerah yang dibatasi oleh batas- batas politis atau administratif. Aspek- aspek geografi meliputi: aspek fisis, aspek manusia atau aspek sosial, aspek biotis, dan aspek topologis.
Pembangunan merupakan realisasi dari suatu perencanaan. Perencanaan dapat diterapkan terhadap daerah- daerah yang kosong dan tehadap daerah- daerah yang sudah didiami. Sifat pembangunan dapat diartikan dengan merombak secara bertahap, dengan dengan menjalankan tambal sulam, denan mencipta sesuatu yang baru. Usaha dalam bidang pembangunan dapat dijalankan dengan cara membimbing atau guiding, cara persuasi melalui telinga dan mata(audio visual), dengan cara memberi stimulasi.
Dalam suatu usaha pembangunan, daerah atau kawasan yang akan dibangun harus dipandang sebagai suatu sistem. System merupakan satu keseluruhan yang kompleks atau dapat dianggap sebagai satu himpunan dari bagian- bagian yang terikat satu sama lain atau sering juga  dikatakan sebagai satu kelompok objek berkaitan, yang membentuk satu ikatan kesatuan.
Dalam hal ini, desa yang dianggap sebagai suatu sistem terdiri dari beberapa komponen, yaitu penduduk, lahan dan organisasinya. Bila ada rencana pembangunan desa, maka kita tidak boleh mengabaikan komponen- komponen itu. Satu saja diabaikan rencana dapat tidak berhasil baik. Jadi, desa dapat merupakan suatu ekosistem. Ekosistem merupakan satu kesatuan dinamis yang mencerminkan keseluruhan factor kompleks yang beroperasi dalam sistem itu.
Geografi pembangunan mempunyai dasar kuat apabila ada analisis kualitatif dan kuantitatif. Dan analisis ini diperlukan untuk dapat mengetahui problematiknya, proses atau perubahannya, dan sebab musababnya, untuk kemudian dapat dicari jalan penyelesaian masalahnya.
2.    Disiplin Masyarakat
Disiplin dalam arti sempit dapat diartikan dengan pematuhan secara ketat pada peraturan, baik tertulis maupun tidak tertulis yang sudah disetujui bersama. Dalam arti luas dapat dikatakan di sini sebagai kumpulan berbagai jenis disiplin yang ada, yang secara idiil mendasarkan diri pada Pancasila dan secara konstitusional pada Undang- Undang Dasar 1945yang ditaati oleh rakyat Indonesia.
Dalam hal disiplin masyarakat dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
a.    Disiplin merupakan salahsatu sumber daya manusiawi pokok dalam pelaksanaan pembangunan nasional
b.    Disiplin dapat merupakan modal utama untuk keberhasilan sesuatu program pembangunan, apabila dilaksanakn secara merata oleh segenap lapisan masyarakat dengan keteraturan yang berkesinambungan
c.    Disiplin sangat perlu dibina dan dimasyarakatkan demi kelestarian lingkungan hidup
d.   Disiplin dapat meningkatkan wibawa dan kepribadian individu dan bangsa Indonesia
e.    Kerukunan, ketertiban kehidupan dalam masyarakat dapat terwujud, apabila pelanggaran pelbagai norma kehidupan dapat dihilangkan sama sekali dan ini berarti bahwa disiplin mempunyai peran yang sangat menentukan
f.     Kehidupan yang serasi dan tertib banyak dipengaruhi oleh disiplin perorangan, kelompok, keluarga, masyarakat, dan bangsa Indonesia
g.    Situasi dan kondisi tertentu pada suatu saat dapat melenyapkan disiplin apabila seseorang tidak kuat iman dan moralnya
h.    Disiplin mengandung sifat yang terpuji, karena di dalamnya terkandung unsur- unsur jujur dan terpercaya
i.      Kemampuan dan ketangguhan bangsa untuk mempertahankan kelangsungan hidup menuju kejayaan bangsa dan negara dijiwai oleh disiplin bangsa
j.      Sukses diperoleh kalau kita berkawan dengan disiplin, dan tidak diperoleh apabila dilawan
3.    Teknologi dan Lingkungan
Dengan kemajuan akal dan teknologi serta kebudayaan manusia, diharapkan segala kesulitan dapat diatasi. Dalam menghadapi masalah kelebihan atau kekurangan penduduk yang menjadi perhatian ialah unsur manusia, sumber bahan pangan, teknologi dan keadaan Negara pada waktu itu.
Bahan makanan, perumahan, matahari dan sumer daya lainnya sangat perlu dipelihara dan dikembangkan. Manusia memerlukan lingkungan yang dapat mendukung hidupnya. Oleh karena itu, untuk memperolehnya ada konsep mengenai ikatan atau hubungan antar penduduk, teknologi dan penggunaan lahan.
Kerusakan lingkungan ternyata tidak hanya disebabkan oleh pertambahan penduduk yang menyolok, melainkan juga karena kurangnya control terhadap kemajuan dan hasil kemajuan teknologi, kurangnya kesadaran masyarakat dari pelbagai lapisan social terhadap pemeliharaan langkungan hidupnya baik di desanya maupun di kotanya.
Seharusnya mereka yang terbuka untuk inovasi dengan pandangan yang luas ke depan dan memiliki ilmu pengetahuan yang baru serta dapat bergaul baik dengan masyarakat sekitar pasti dapat memajukan bangsa dan negaranya. Manusia- manusia modern seperti itulah kiranya tidak sukar menciptakan lingkungan yang dikehendaki, yaitu lingkungan bersih dan bermanfaat, baik di desa maupun di kota.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
     Desa adalah suatu hasil perpaduan antara kegiatan sekelompok manusia dengan lingkungannya. Hasil dari perpaduan itu ialah suatu ujud atau kenampakan di muka bumi yang di timbulkan oleh unsure-unsur fisiografi, social, ekonomi, politik, dan cultural yang saling berinteraksi antar unsure tersebut dan juga dalam hubungannya dengan daerah-daerah lain.
     Kota dapat diartikan sebagai suatu system jaringan kehidupan manusia yang di tandai dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan di warnai dengan strata social-ekonomi yang hiterogen dan coraknya materialistis, atau dapat pula diartikan sebagai bentang budaya yang di timbulkan oleh unsure-unsur alami dan nonalami dengan gejala-gejala pemusatan penduduk yang cukup besar dan corak kehidupan yang bersifat heterogen dan materialistic di bandingkan dengan daerah belakannya.
     Interaksi merupakan suatu proses yang sifatnya timbal-balik dan mempunyai pengaruh terhadap perilaku dari pihak-pihak yang bersangkutan melalui kontak langsung, melalui berita yang didengar atau melalui surat kabar.
     Faktor yang mempengaruhi interaksi adalah adanya Region Complementary (wilayah yang saling melengkapi), Intervening Opportunity (kesempatan untuk berintervensi), dan Spatial Transfer Ability (kemudahan pemindahan dalam ruang).
Teori interaksi wilayah antara lain: teori interaksi wilayah, teori titik henti (breaking point theory), dan teori konektivitas.
          Dampak penetrasi kota terhadap desa sangat beragam, mencakup aspek yang ositif dan negatif bagi perkembangan desa.


DAFTAR PUSTAKA

Bintarto. 1929. Interaksi Desa-Kota dan Permasalahannya. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pictures